SULSEL - Jelang Ramadan, ada-ada saja ulah para pedagang daging sapi untuk bisa meraup keuntungan lebih. Salah satunya mencapurkan daging sapi dengan daging babi. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan masyarakat, mengingat tidak semua pembeli bisa membedakan secara pasti antara daging sapi dan daging babi.
Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi di Sulsel, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Hadi Bassalama mengatakan, untuk di Sulsel, pihaknya bersama instansi terkait dan seluruh jajaran di setiap kabupaten dan kota sejak lama sudah memperketat pengawasan keluar masuk maupun distribusi daging di Sulsel. "Untuk distribusi daging di Sulsel itu kita perketat, dan itu sudah sejak lama. Distribusi daging yang keluar masuk itu harus dilengkapi dengan surat-surat pendukung," kata Hadi, kemarin.
Pengawasan itu juga, kata Hadi, selain untuk menghindari terjadinya hal seperti itu, juga untuk memastikan bahwa semua distribusi atau keluar masuk daging bisa terkendali khususnya yang berkaitan dengan masalah stok dan harga. "Jangan sampai karna harga disini masih relatif rendah, jadi para pedagang dari luar membeli disini untuk dijual di luar. Kalau seperti itu, kan nantinya bisa mengganggu kestabilan stok dan harga disini.
Itu yang kita antisipasi. Kita utamakan untuk di Sulsel dulu," ujarnya.
Pihaknya juga mengaku akan terus memantau dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya masalah pada distribusi bahan pokok kebutuhan masyarakat, termasuk daging.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pemotong Sapi Makassar, Jufri Pabe menjamin tidak ada sapi oplosan di pasaran saat Ramadan, apalagi daging sapi yang dicampur dengan daging babi. "Kalau dagingnya diambil di RPH, saya menjamin tidak ada daging oplosan ,"kata Jufri.
Ia menilai daging oplosan dimana daging sapi dicampur daging babi tidak mungkin dilakukan pedagang, sebab ini masalah untung dan rugi. "Logikanya dimana, daging babi itu lebih mahal daripada daging sapi, masa pedagang mau rugi,"kata Jufri.
Selain itu, ia mengatakan kemungkinan harga daging saat Ramadan akan mengalami kenaikan dibanding bulan-bulan sebelumnya sebesar 15 persen. Kenaikan tersebut sudah menjadi hal yang lumrah setiap tahunnya, sehingga pemerintah akan sulit untuk menekan harga di pasaran. "Sangat sulit menekan harga, sebab harga daging ditentukan oleh pedagang sapi, kalau pemotong kita maunya harga serendah-rendahnya," ujarnya.
Meski begitu, pihaknya menjamin stok daging di pasaran, meskipun pemakaian daging sapi jelang Ramadan sangat besar, sebab banyak masyarakat yang melangsungkan acara pernikahan.
Terpisah, Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Peternakan (DKP3) Makassar menjamin stok daging sapi tidak akan langka.
Kepala DKP3 Makassar Abd Rahman Bando mengatakan, stok daging sapi dan kerbau di Makassar masih mencukupi hingga Idul Fitri mendatang. Alasannya, stok ternak sapi di Makassar masih dalam kondisi aman. Adapun data ternak untuk kerbau sebanyak 366 ekor dengan rincian 117 jantan dan 249 betina, sementara untuk ternak sapi sebanyak 3.334 ekor dengan rincian 1.068 jantan, 2.266 betina.
Terkait kenaikkan harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional, Abd Rahman Bando mengatakan siklus yang terjadi saat momen menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri. “Hasil pengamatan kami, suplai daging cukup terkendali, memang harga daging saat ini Rp 90 ribu dari harga normalnya yang biasa berkira Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilo. Ini selalu terjadi dan sudah menjadi kejadian tiap menjelang Ramadan,”paparnya.
Terpisah, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, pihaknya bersama Disperindag akan meneliti isu yang membuat masyarakat was-was tersebut. Selain itu, Polda Sulsel akan mengantisipasi termasuk melibatkan inteljen di lapangan. "Mereka (Inteljen) akan mengawasi distribusi, apakah sudah sesuai dengan aturan," ujar Barung.
Barung mengakui, harga daging sapi saat ini memang cenderung mengalami kenaikan. Sebab permintaan warga sangat tinggi dan produksifitasnya rendah. Diketahui, Polda Jatim menemukan penjual daging sapi yang mencampur dengan daging babi untuk meraup keuntungan berlipat.
Pelanggannya bahkan sudah menjadi korban selama setahun. Kasus tersebut diungkap anggota Subdit Perindustrian, Perdagangan, dan Investasi (Indagsi) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim yang menggandeng Dinas Peternakan Jatim. Polisi menangkap Sariyah, penjual daging sapi bercampur babi di Pasar Lembaga Ketahanan Masyarakat Kelurahan (LKMK) Semolowaru. Janda 52 tahun itu menjalankan usaha tersebut seorang diri. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar